SELAMATKAN ANAK INDONESIA DENGAN SYARIAH

Oleh: Amrina Rosyada, S. Psi.

Setiap waktu tak ada orang tua yang tidak memikirkan nasib anak-anaknya. Juga nasib anak-anak lain, khususnya di negeri ini. Mengapa demikian? Tidak lain, karena banyaknya kasus yang ada di media mengungkapkan berbagai permasalahan anak.

Kasus Gizi Buruk dan Busung Lapar
Di tanah air, sampai dengan November 2005 tercatat 71.815 balita menderita gizi buruk. 232 diantaranya meninggal dunia. Perinciannya : 3438 di Nusa Tenggara Barat, 33 meninggal, 12.028 di Jawa Tengah, 94 meninggal; 13.969 di Nusa Tenggara Timur, 52 diantaranya meninggal. 56 kasus di Riau, 4 diantaranya meninggal. 3.763 kasus di Nangroe Aceh Darussalam, 8 meninggal. 1.155 kasus di Papua, 3 meninggal. 95 kasus di Kalimantan, 5 meninggal. 5 kasus di Maluku, 1 meninggal (Suara Pembaharuan, 11/2/06).

Kasus Buta Aksara dan Putus Sekolah
Akibat kemiskinan, dunia pendidikan terkena dampaknya. Banyak keluarga miskin tak mampu menyekolahkan anaknya. Direktur Kesetaraan PLS Depdiknas Ella Yulaelawati mengatakan, data 2005 menunjukkan bahwa siswa SMP yang putus sekolah mencapai 1.000.746 dan siswa SMA/SMK mencapai 151.976. Jumlah penduduk yang buta aksara mencapai 14,6 juta. Sementara itu, Anak Usia Dini belum banyak yang terlayani. Yang terlayani baru 1,4 juta (12,5 % dari 11,9 juta anak usia 2-4 tahun). (Waspada.co.id, 14/7/06)

Ancaman Televisi
Sekitar 60 juta anak Indonesia menonton TV selama berjam-jam sepenjang hari. Berdasarkan penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2002, di Jakarta misalnya, anak-anak menghabiskan sekitar 30- 35 jam di depan TV selama seminggu. Artinya, setiap tahun mereka menghabiskan waktu sebesar 1560-1820 jam. Angka ini lebih banyak daripada jam belajar anak SD yang tidak sampai 1000 jam per tahun.
Apa yang ditonton? Anak-anak menonton acara TV tanpa ada batasan. Keluarga pada umumnya tidak membatasi tontonan TV bagi putra-putrinya. Mereka menonton berita kriminal yang berdarah-darah, gosip selebritis, sinetron yang penuh kekerasan, kebebasan seks, intrik, mistik, rekaan azab, hantu, setan siluman, grup musik yang berpakaian seksi dan sebagainya.(Bisnis. com, 21/07/06).

Ancaman Makanan Anak (Rawan Kanker dan Formalin)
Sekitar 75% snack anak-anak yang dijual di pasaran, rawan kanker karena menggunakan bahan tetracin. Antara lain terkandung dalam jelly drink, jelly agar, minuman dan permen.
Baru-baru ini ditemukan BPOM Diepkes adanya berbagai produk permen susu yang mengandung formalin.
Ancaman Pornografi dan Seks Bebas
Yayasan Kita dan Buah Hati melakukan survey sepanjang tahun 2005 pada anak-anak usia 9-12 tahun, dengan responden 1.705 anak di Jabotadebek.Ditemukan, 80% anak-anak sudah mengakses materi pornografi dari erbagai sumber, antara lain: komik, VCD/DVD dan situs-situs porno. Survey lain, dari BKKBN 2002 menyebutkan, 40% remaja pernah berhubungan seks sebelum nikah. BBC dan CNN pada tahun 2001 melaporkan, Indonesia dan Rusia merupakan pemasok terbesar materi pornografi anak, dimana anak ditampilkan dalam adegan-adegan seksual (Republika, 21/5/06).

Ancaman Kekerasan Fisik dan Psikis
Menurut Komnas Perlindungan Anak selama tahun 2005, ditemukan 736 kasus kekerasan terhadap anak, terbagi: 327 kasus perlakuan salah secara seksual, 233 kasus perlakuan salah secara fisik, 176 kasus kekerasan psikis dan 130 penelantaran anak.(Tempointeraktif.com. 13/1/06)

Perdagangan dan Eksploitasi Seksual Anak
Sekjen Komnas Perlindungan Anak Aris Merdeka Sirait mengemukakan, Indonesia merupakan pemasok perdagangan anak dan wanita (traficking) terbesar di Asia Tenggara. Berdasarkan penelitian yang dilakukan lembaganya, terdapat sekita 200 sampai 300 ribu Pekerja Seks Komersial ( PSK) berusia di bawah 18 tahun.

Penculikan
Kasus penculikan Raisya Ali Said bulan Agustus ini menambah daftar permasalahan anak. Di Jakarta saja, selama bulan Juli sampai Agustus terdapat 14 kasus penculikan. Diantaranya ada yang terbunuh.

AKAR MASALAH
Dari fakta di atas, kita dapat melihat demikian kompleksnya masalah yang mendera buah hati kita. Jika kita runut akar masalahnya, dapat dikembalikan pada 3 pihak yang ikut bertanggungjawab atas persoalan ini. Yaitu: Orangtua/keluarga, media dan negara.
Pihak Orangtua/Keluarga. Kondisi ekonomi yang sulit dan tingkat ketaqwaan yang rendah membuat orangtua tega mengorbankan anak-anak mereka. Memaksa anak usia dini bekerja. Bahkan tega menjual anak untuk menjadi PSK. Diantara mereka, ada pula anak-anak yang menjadi korban brokenhome. Mereka berperilaku negatif seperti pecandu narkoba atau terjerumus seks bebas.
Pihak Media. Media massa terutama televisi, secara langsung ataupun tidak ikut andil mendorong adanya kasus yang mendera anak-anak kita. Kasus kriminalitas anak, terinspirasi dari tayangan kekerasan dalam TV. Melalui sinetron anak-anak mendapatkan contoh yang mereka tiru, baik berupa pergaulan bebas maupun kekerasan.
Pihak Negara. Kebijakan pemerintah yang berpihak pada asing mengakibatkan hilangnya pendapatan negara yang sangat besar yang semestinya dapat mensejahterakan rakyat. Karenanya, banyak keluarga menjadi miskin. Dengan kondisi ini, anak menjadi korban kemiskinan struktural. Mereka tidak lagi mendapatkan hak dalam hal jaminan pendidikan dan kesehatan.

ISLAM SATU-SATUNYA SOLUSI
Jika kita mencermati masalah di atas, muara seluruh masalah yang menghimpit buah hati kita adalah karena penerapan sistem Kapitalisme, yang berakar pada sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan).
Untuk itu dibutuhkan aturan yang terbaik yang dapat mengentas persoalan anak-anak kita sampai tuntas. Itulah aturan Islam. Aturan dari Sang pencipta. Islam sangat menghargai anak-anak sejak usia dini. Bahkan ketika masih dalam kandungan. Ibu mendapat kewajiban mengasuh anaknya yang belum mumayyiz ( belum mandiri dalam mengurus diri). Islam memberikan tuntunan pada orangtua untuk meneladani Rosululloh dalam memperlakukan anak-anak. Rosul sangat menyayangi anak-anak. Orangtua dapat menggendong anaknya ketika sholat. Rosululloh pernah menegur seorang ayah yang memarahi anaknya karena ngompol di pangkuannya. Teguran Rosululloh tentang peristiwa ini: ”Bekas najis lebih mudah dihilangkan dibandingkan luka di hati…” tampak bahwa Rosululloh sangat memperhatikan kondisi psikis anak.
Islam menetapkan kewajiban memberi nafkah bagi suami pada istrinya dan anak-anaknya. Jika mereka tak mampu, negara wajib memberi santunan. Dengan demikan, tak ada anak yang harus ikut membantu orangtua bekerja mencari nafkah.
Islam sangat memperhatikan lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang. Hal-hal yang tidak kondusif bagi perkembangan anak harus dihilangkan. Media-media yang merusak kepribadian anak (mengekspos kekerasan dan pornografi-pornoaksi) dilarang. Sehingga akan dihadirkan lingkungan yang penuh dengan perlindungan dan kenyamanan bagi tumbuh kembang generasi yang bahagia, sehat, cerdas dan unggul.
Masa depan permata hati kita, sangat bergantung pada sistem yang menopang kehidupan ini. Yang mampu mendorong keluarga dan masyarakat untuk turut andil dalam mewujudkan tatanan kehidupan yang baik. Hanya Islam yang memiliki solusi untuk menghargai anak sebagai aset masa depan bangsa.

BAGAIMANA KIPRAH KITA?
Menyikapi demikian banyaknya persolan anak, sebagai muslimah, baik sebagai ibu ataupun calon ibu, kita patut senantiasa:
1. Meningkatkan ketaqwaan kepada Alloh SWT
Senantias terikat dengan aturan Alloh SWT. Menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
2. Mengkaji ajaran Islam
Islam adalah agama yang memiliki aturan yang paripurna. Mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk tentang hak anak (hak hidup, hak mendapatkan nafkah, hak pengasuhan, hak mendapatkan pendidikan dan kesehatan dsb.)
3. Memiliki kepedulian terhadap Masalah Anak
Mengingat masalah anak bukanlah masalah individu orangtua semata, tetapi merupakan masalah masyarakat, maka mutlak dibutuhkan peran tokoh-tokoh masyarakat termasuk dalam hal ini para dosen yang menempati posisi strategis di mata masyarakat untuk melakukan proses penyadaran dan pembinaan untuk peduli masalah anak guna menyelamatkan generasi. Patut kita sadari, kita saat ini tengah berada dalam upaya penghancuran generasi oleh musuh-musuh Islam pengemban ideologi Kapitalisme.